ODGJ & Pergumulan Ekonomi
“Penyebab menjadi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) banyak sekali . Tapi ternyata yang paling dominan itu karena masalah ekonomi dan perceraian. Mereka menikah, terbentur masalah ekonomi lalu istrinya gugat cerai, yang seperti itu banyak,” kata Suhardi , Sekretaris Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Panti Rehabilitasi Sosial Plandi, Purworejo Jawa Tengah. “Jadi , yang paling banyak menderita menjadi ODGJ adalah karena fakstor Ekonomi” tegasnya.
***
ODGJ JUGA MANUSIA
APA YANG KITA BAYANGKAN, Ketika kita mendengar istilah *ODGJ* (Orang Dengan Gangguan Jiwa) ?
Biasanya, yang kita bayangkan adalah Orang-orang yang : Kumuh, Berbaju Lusuh, Compang camping, muka kusam, Bau, sangat Menjijikkan dan cenderung desktruktif, karena cenderung berperilaku negatif / merugikan orang lain.
Bayangan itu juga yang hinggap di benakku, Ketika Dkn Dhian Utami dan Pak Rumino mengajakku untuk ikut mendampingi GKJ Pep Seren guna rayakan Paskah Bersama dengan para kaum ODGJ. Sebagai Pendeta GKJ Purworejo, sekaligus Ketua Pengurus CU (Credit Union) Angudi Laras, saya dianggap sebagai orang yang tepat untuk ikut bersama karena GKJ Pep Seren bekerjasama dengan UMKM Kec. Purworejo hendak mengadakan kunjungan kasih Bersama di Panti rehabilitasi ODGJ.
Jujur saja. Kala itu, ada rasa cemas. Namu nada juga dorongan kuat untuk mengikuti perjumpaan dengan kaum ODGJ. Dorongan kuat ku rasakan, karena ini adalah hal yang baru. Kunjungan kasih ke Panti Jompo/ Panti Wreda, ke Panti Asuhan , ke Penjara… sudah beberapa kali terjadi. Tetapi kunjungan ke Orang-orang Gila… eh ODGJ -Orang Dengan Gangguan Jiwa… wah… sangat menarik. Sungguh, Rasanya : “Ngeri-ngeri Sedap” gitu…. Hemm…
Tentang ODGJ. Ada yang membuat rumusan bahwa Gangguan jiwa adalah bentuk dari manifestasi penyimpangan perilaku, diakibatkan oleh distorsi emosi sehingga ditemukan tingkah laku dalam ketidakwajaran. Hal tersebut dapat terjadi karena semua fungsi kejiwaan mengalami penurunan
Yang lain lagi menegaskan bahwa gangguan jiwa merupakan pola perilaku, sindrom yang secara klinis bermakna berhubungan dengan penderitaan, distress dan menimbulkan disfungsi pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia. Gangguan jiwa adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri. Gejala dan tanda yang ditunjukkan oleh penderita gangguan jiwa antara lain gangguan kognitif, gangguan proses pikir, gangguan kesadaran, gangguan emosi, kemampuan berpikir, serta tingkah laku aneh,
Secara umum kita ketahui bahwa ODGJ adalah Orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang menyebabkan perubahan pada cara berpikir, perasaan, emosi, hingga perilaku mereka sehari-hari. Gejala yang dialami oleh ODGJ seperti itulah yang membuat mereka sulit berinteraksi dengan orang lain. Tak Heran , ODGJ kerap menerima diskriminasi dari masyarakat karena dianggap berperilaku menyimpang.
Kami mendapat informasi penting bahwa ternyata ODGJ dapat hidup normal dengan pengobatan atau terapi yang rutin. Sayangnya, masih banyak ODGJ yang belum mendapatkan penanganan, sehingga penyakit yang dideritanya semakin parah.
Kurangnya informasi dan pemahaman mengenai penyakit jiwa membuat banyak orang sering kali memperlakukan ODGJ dengan kurang baik. Tak sedikit juga ODGJ di Indonesia yang masih dipasung atau dikurung karena dianggap dapat membahayakan dirinya dan orang lain.
Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Dengan menjalani pengobatan yang tepat, ODGJ pun bisa memiliki kualitas hidup yang baik.
***
BEBERA GANGGUAN YANG DIALAMI OLEH ODGJ
Ada banyak jenis gangguan atau penyakit jiwa yang dapat dialami oleh ODGJ, di antaranya:
1. Gangguan kecemasan
Setiap orang tentu pernah merasakan cemas dan khawatir karena penyebab tertentu, misalnya saat menghadapi ujian atau masalah tertentu. Normalnya, rasa cemas tersebut akan menghilang setelah faktor pencetusnya diatasi. Namun, hal ini tidak terjadi pada ODGJ dengan gangguan kecemasan.
Orang yang mengalami gangguan cemas umumnya akan terus merasa cemas dan gelisah serta sulit mengendalikan perasaan tersebut. Munculnya perasaan itu bisa saja berupa hal-hal sepele atau bahkan tidak ada pencetusnya sama sekali.
Ketika mengalami gangguan cemas, ODGJ juga bisa mengalami gejala lain, seperti banyak berkeringat, dada berdebar, pusing, sulit konsentrasi, dan merasa akan ada bahaya yang datang atau mengancam.
Jenis-jenis gangguan kecemasan yang dapat dialami oleh ODGJ adalah gangguan kecemasan umum, gangguan kecemasan sosial, serangan panik, dan fobia.
2. Gangguan obsesif kompulsif (OCD)
ODGJ dengan gangguan ini akan kesulitan atau bahkan tidak bisa melihat hal yang kotor dan berantakan. Mereka juga kerap memiliki perasaan atau pikiran yang sulit dibendung terhadap hal tertentu.
Sebagai contoh, ODGJ dengan gangguan OCD akan merasa takut terkena penyakit, sehingga mereka akan mencuci tangan dan membersihkan rumahnya hingga berkali-kali.
Selain itu, karena merasa takut kemalingan, mereka juga bisa kembali memeriksa apakah pintu rumah dan jendela sudah terkunci dengan rapat hingga berulang kali saat hendak bepergian.
ODGJ dengan gangguan ini bisa mengalami gejala yang cukup parah hingga sulit menjalani aktivitas atau berinteraksi dengan orang lain.
3. Post-traumatic stress disorder (PTSD)
PTSD atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan jiwa yang dapat dialami setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan, misalnya kecelakaan, bencana alam, kekerasan, atau pelecehan seksual.
ODGJ dengan PTSD sering kali akan teringat pada peristiwa yang membuatnya trauma. Penderita kondisi ini juga sering kali akan merasakan gejala tertentu, seperti susah tidur, gelisah, merasa takut dan bersalah, atau panik, ketika melihat, mendengar, atau bahkan sekedar memikirkan hal yang menjadi pemicu traumanya.
4. Gangguan kepribadian
Orang dengan gangguan kepribadian umumnya memiliki pola pikir dan perilaku yang dianggap menyimpang, aneh, atau tidak sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku di lingkungan sekitarnya. ODGJ dengan gangguan kepribadian juga umumnya akan sulit memahami emosi dan berinteraksi dengan orang lain.
Jenis gangguan kepribadian yang bisa dialami oleh ODGJ ada banyak, antara lain gangguan kepribadian anti sosial, gangguan kepribadian ambang, gangguan kepribadian obsesif kompulsif, dan gangguan kepribadian narsistik.
5. Gangguan bipolar
Gangguan bipolar adalah salah satu jenis gangguan yang juga dapat terjadi pada ODGJ. Perubahan suasana hati pada ODGJ dengan gangguan bipolar ditandai dengan beberapa fase, yaitu fase mania dan fase depresif.
Saat sedang mengalami fase mania, penderita bipolar bisa merasa sangat bahagia, sangat antusias atau memiliki semangat yang menggebu-gebu, banyak bicara atau makan, susah tidur, dan tidak bisa diam. Namun, ketika memasuki fase depresif, penderita bisa mengalami gejala depresi.
Setiap fase tersebut dapat berlangsung dalam hitungan jam, minggu, atau bulan. Jika tidak mendapatkan pengobatan, ODGJ dengan gangguan bipolar berisiko tinggi melakukan bunuh diri dan perilaku berisiko, seperti menggunakan narkoba dan alkohol.
6. Depresi
Depresi merupakan salah satu gangguan jiwa yang paling banyak diderita oleh ODGJ. Menurut data WHO, diperkirakan sekitar 264 juta orang di seluruh dunia mengalami atau setidaknya pernah menderita depresi.
Meski demikian, banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gejala depresi, sehingga kondisi ini bisa semakin parah.
ODGJ yang mengalami depresi kerap mengalami beberapa gejala, seperti terlihat lesu dan tidak semangat menjalani hidup, sulit tidur atau justru banyak tidur, kurang mau makan atau terlalu banyak makan, gangguan hasrat seksual, serta adanya perasaan sedih, bersalah, dan tidak berdaya tanpa alasan yang jelas.
Jika sudah parah, ODGJ yang mengalami depresi bisa saja berniat atau sudah mencoba untuk bunuh diri. ODGJ yang disebabkan oleh depresi perlu mendapakan pengobatan dari dokter agar kondisinya bisa membaik.
7. Skizofrenia
ODGJ yang menderita skizofrenia bisa mengalami gejala halusinasi, delusi atau waham, pola pikir yang aneh, perubahan perilaku, dan gelisah atau cemas.
Saat mengalami halusinasi, ODGJ dengan skizofrenia akan merasa mendengar, melihat, mencium, atau menyentuh sesuatu, padahal rangsangan tersebut tidak nyata.
Tanpa pengobatan, ODGJ yang memiliki skizofrenia sering kali sulit berinteraksi dengan orang lain atau bahkan dipasung karena perilakunya dianggap membahayakan dirinya sendiri atau orang lain. Namun, dengan penanganan yang tepat, ODGJ dengan skizofrenia bisa hidup normal dan produktif.
***
BERJUMPA DENGAN KAUM ODGJ
Sesuai waktu yang ditentukan, kami berangkat ke Panti Rehabilitasi Sosial Plandi yang beralamat di Dukuh Sawioro RT 06 RW 01 Desa Wangunrejo Kecamatan Banyuurip, Purworejo (31/3-2024). Kami datang Bersama komunitas GKJ Pep Seren Purworejo, Mereka merayakan Paskah secara sederhana, dengan kunjungan kasih; Oleh karena bertepatan dengan Bulan Romadhan, maka kunjungan kasih jumpa kaum ODGJ dilakukan di sore hari, diakhiri dengan Buka Bersama Bersama mereka. Kegiatan ini bekerjasama dengan paguyuban UMKM Joyo Mulyo Purworejo. “Kami bersyukur dan sangat terharu, bisa bekerja sama dengan GKJ Purworejo dalam merayakan Paskah sekaligus Berbuka Puasa bersamadi Panti Rehabilitasi ODGJ Plandidi sini”Ungkap Agung Riawan, Ketua Forum UMKM Joyo Mulyo Kec. Purworejo
Jauh berbeda dengan apa yang kami bayangkan sebelumnya, ternyata ODGJ di Panti Rehabilitasi Plandi sudah banyak yang berangsur sembuh. Mereka tampak bersih, berseri, penuh semangat bersalaman dengan kami. Mereka bertutur kata ramah, tidak menakutkan, tidak bau, tidak kumuh dan tidak menjijikan. Memang ada beberapa orang yang masih tertunduk, ada yang sorot matanya kosong. “Secara bertahap, mereka mengalami proses penyembuhan”.ungkap salah seorang perawat...
Saya didaulat untuk berdiri dan memperkenalkan diri di hadapan mereka para penghuni Panti Rehabilitasi ODGJ Plandi.
Secara singkat kuungkapkan “Paskah mengajarkan tentang pengorbanan Yesus Kristus dengan cibnta kasihnya tanpa pandang bulu yang menjadi teladan ….Bagaimana kita bisa mengikuti teladan tersebut dengan melakukan kebaikan kepada semua orang, bukan hanya dalam ritual, tapi juga dalam tindakan nyata. Itulah yang Indonesia butuhkan, mari kita lakukan bersama-sama, bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang”
Acara kunjungan kasih diteruskan dengan aneka cerita dengan berbagai harapan mereke ke depan. Seorang anak muda laki-laki (sekitar 18 th) berkisah:
“Saya sakit, karena ayah dan ibu bercerai, pada mulanya soal penghasilan... Waktu itu saya naik kelas 9 (III SMP). Ayah pergi. Ibu nikah lagi. Saya ikut nenek…. Dan Terpaksa tidak bisa sekolah lagi , karena tak ada beaya…..”. Saya bingung, malu dan stress… Apalagi setelah nenek meninggal dunia ….. wah…” Ia bercerita terbata bata, sesekali mengusap sudut matanya …
“Tahu-tahu saya dirawat di sini. dan akhitnya dalam prosesd panjang ....akhirnya bisa dinyatakan sehat. Di saat mau pulang... TAK ADA KELUARGA YANG MAU MENERIMAKU....... Akhirnya , saya putuskan untuk tetap tinggal di sini, karena saya kini sebatang kara, sudah tak punya siapa-siapa lagi…” ungkapnya.
Satu persatu kami merangkul mereka. Acara diakhiri dengan Doa Bersama. Diteruskan dengan makan Bersama / Berbuka Puasa Bersama.
“Semoga semakin banyak yang tergerak untuk membantu para pasien ODGJ agar segera pulih sehat seperti sediakala,” itulah doa dan harap kami Bersama. Kini kami terus berpikir.... andakata CU (Credit Union) Angudi Laras bisa lebih banyak berkiprah.... bisa terus menjangkau masyarakat luas.... setidaknya bisa mencegah bertambahnya kaum ODGJ... yang konon kebanyakan menjadi ODGJ olehkarena pereoalan ekonomi yang kian sulit......
ODGJ , EKONOMI , DAN CREDIT UNION.
Di awal tulisan ini , telah diungkapkan bahwa “Penyebab menjadi ODGJ banyak. Tapi yang paling dominan itu karena masalah ekonomi dan perceraian. Mereka menikah, terbentur masalah ekonomi lalu istrinya gugat cerai, yang seperti itu banyak,” kata Suhardi , Sekretaris Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Panti Rehabilitasi Sosial Plandi, Purworejo Jawa Tengah. “Jadi , yang paling banyak menderita menjadi ODGJ adalah karena fakstor Ekonomi” tegasnya.
Pertanyaanya? Apa hubungannya dengan Credit Union (CU).
Hubungannya Sangat Erat. Oleh karena: Karya CU adalah memberdayakan (bukan memperdayakan) Ekonomi anggotanya, agar anggota CU bisa mengalami peningkatan di bidang sosial ekonomi; bisa hidup lebih layak dan mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Bila tujuan ini tercapai, tentu saja akan bisa meminimalisir persoalan-persoalan yang terkait di bidang ekonomi... Apalagi . sudah jelas bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu faktor pemicu seseorang menjadi ODGJ - Orang Dengan Gangguan Jiwa. Semoga ke depan banyak CU (termasuk CUAL) bisa lebih berdaya guna untuk kemajuan ekonomi masyarakat. Ini sebuah peluang dan tantangan , Semoga....
(LES) - CUAL
Ketua Pengurus CU Angudi Laras



