Catatan Graciela: Memaknai Pemberdayaan dan Kemandirian melalui Lokakarya Pemberdayaan X
Pada tanggal 22–23 Juli 2026 lalu, saya berkesempatan mengikuti Lokakarya Pemberdayaan X yang diselenggarakan oleh PUSKOPCUINA secara daring melalui Zoom. Selama dua hari mengikuti kegiatan ini, saya mendapatkan banyak pemahaman baru mengenai arti penting pemberdayaan dalam gerakan Credit Union. Bagi saya, lokakarya ini bukan hanya menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana pemberdayaan dapat dilakukan agar benar-benar memberikan manfaat bagi anggota.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya selama mengikuti lokakarya adalah pemahaman bahwa pemberdayaan bukan hanya menjadi tanggung jawab pengurus dan staf. Anggota perlu dilibatkan secara aktif dalam setiap prosesnya. Tujuan pemberdayaan bukan untuk membuat anggota terus bergantung pada bantuan, tetapi justru membantu mereka agar mampu mengenali potensi yang dimiliki, mengembangkan kemampuan, dan menjadi lebih mandiri.
Pemahaman tersebut semakin kuat ketika dalam lokakarya dibahas pendekatan Asset Based Community Development (ABCD). Pendekatan ini mengajak kita untuk melihat pemberdayaan dari sisi potensi, aset, peluang, dan kekuatan yang sudah dimiliki oleh masyarakat maupun komunitas. Bagi saya, pendekatan ini memberikan cara pandang yang menarik: sebelum melihat apa yang kurang, kita perlu melihat terlebih dahulu apa yang sudah dimiliki dan dapat dikembangkan.
Saya juga belajar bahwa pemberdayaan tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan dari produk keuangan Credit Union. Kegiatan pemberdayaan perlu terhubung dengan kebutuhan nyata anggota. Dalam konteks wilayah perkotaan, misalnya, anggota yang menjalankan UMKM dan berbagai usaha produktif membutuhkan dukungan yang tidak hanya berupa akses pembiayaan, tetapi juga pendampingan dan pengembangan usaha.
Hal lain yang menarik bagi saya adalah pembahasan mengenai aktivis pemberdayaan. Saya memahami bahwa menjadi aktivis bukan hanya mengenai kemampuan untuk menjalankan sebuah program, tetapi juga membutuhkan jiwa sosial, kepedulian, mental melayani, semangat belajar, dan kesediaan meluangkan waktu. Para aktivis juga perlu mendapatkan pelatihan dan pembekalan secara berkala agar mampu menjadi pendamping yang semakin baik bagi anggota.

*) Lokakarya Pemberdayaan X secara daring melalui Zoom, 22–23 Juli 2026
Belajar Melihat Potensi, Membangun Kemandirian
Dalam diskusi, saya juga melihat bahwa pemberdayaan memiliki banyak ruang untuk dikembangkan, mulai dari UMKM, Kelompok Usaha Bersama (KUBn), komunitas teritori, komunitas pemberdayaan, hingga pengembangan aktivis. Harapannya, anggota dapat memperoleh pendampingan yang lebih baik, usaha semakin berkembang, serta komunitas dapat menjadi ruang untuk belajar dan bekerja sama.
Namun, lokakarya ini juga membuat saya menyadari bahwa pemberdayaan tidak selalu berjalan dengan mudah. Masih terdapat berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, pendampingan yang belum maksimal, partisipasi anggota yang perlu diperkuat, hingga pengelolaan data dan sistem informasi. Semua itu menunjukkan bahwa pemberdayaan membutuhkan proses yang konsisten, kerja sama, dan kemauan untuk terus melakukan perbaikan.
Ada satu nilai yang menurut saya sangat relevan dengan proses tersebut, yaitu filosofi petani yang mengajarkan kesabaran, ketekunan, konsistensi, tidak mudah menyerah, serta keberanian untuk mencoba kembali ketika mengalami kegagalan. Meskipun konteks kehidupan anggota berbeda-beda, nilai tersebut tetap dapat menjadi pengingat bahwa perubahan dan keberhasilan membutuhkan proses yang tidak selalu singkat.
Di penghujung lokakarya, Pak Anton menegaskan bahwa
“Pemberdayaan merupakan jantung gerakan Credit Union.”
Bagi saya, kalimat tersebut menjadi salah satu pesan yang paling kuat dari seluruh rangkaian kegiatan. Keberhasilan CU tidak hanya diukur dari pertumbuhan aset, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan anggota melalui pemberdayaan yang berkelanjutan. Karena itu, pemberdayaan perlu dilaksanakan dengan pendekatan berbasis aset atau ABCD, melibatkan partisipasi anggota, didukung oleh kelembagaan yang kuat, terintegrasi dengan produk keuangan, serta didampingi secara konsisten hingga anggota benar-benar mandiri.
Setelah mengikuti lokakarya ini, saya semakin memahami bahwa pemberdayaan bukan sekadar membuat sebuah program atau memberikan bantuan kepada anggota. Pemberdayaan adalah proses untuk berjalan bersama anggota, menemukan potensi yang mereka miliki, mendampingi proses perkembangannya, dan mendorong mereka untuk menjadi lebih mandiri. Bagi saya pribadi, mengikuti Lokakarya Pemberdayaan X merupakan pengalaman belajar yang bermakna. Saya semakin memahami bahwa setiap anggota memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tugas pemberdayaan bukan mengambil alih perjalanan mereka, melainkan hadir untuk mendampingi, menguatkan, dan membantu mereka menemukan serta mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Pada akhirnya, pemberdayaan bukan tentang seberapa banyak yang kita berikan kepada anggota, melainkan seberapa jauh kita mampu mendampingi mereka agar berdaya dengan kekuatan yang mereka miliki sendiri. (GRA)
*) Penulis: Graciela Rosarison (Staf CS & Admin Kredit) Editor: Padmi Pudyaningtyas



