Selamat datang di website Federasi Nasional Credit Union Indonesia - PUSKOPCUINA
Jam Kerja PUSKOPCUINA Senin s.d. Jumat pukul 07.30 s.d. 15.30 WIB, Efektif Per 4 Maret 2024

Materi Edukasi

JANGAN BIARKAN, KEMISKINAN DIWARISKAN: Dari Bantuan Menuju Kemandirian

Share:
JANGAN BIARKAN, KEMISKINAN DIWARISKAN:                                                       Dari Bantuan Menuju Kemandirian

SERIUS: Ini tugas kita bersama ... termasuk kita para aktivis Credit Union

Ada sebuah pertanyaan yang kelihatannya sederhana:

“Siapa yang miskin?”

Pertanyaan itu penting.

Negara memang perlu mengetahui siapa yang membutuhkan bantuan. Data diperlukan. Pendataan diperlukan. Ketepatan sasaran juga diperlukan.

Tetapi, barangkali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya lebih dalam.

Apakah cukup hanya mengetahui siapa yang miskin?

Atau kita perlu bertanya:

“Apa yang membuat seseorang tetap miskin?”

Dan pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Apa yang harus kita lakukan supaya anak-anak mereka tidak mewarisi kemiskinan orang tuanya?”

Di sinilah cara kita memandang bantuan sosial perlu mengalami perubahan.

Sebab kemiskinan bukan hanya tentang isi dompet hari ini.

Kemiskinan juga bisa berbicara tentang anak yang kurang gizi.

Tentang anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik.

Tentang keluarga yang tidak memiliki akses kesehatan yang memadai.

Tentang seorang ayah yang kehilangan pekerjaan.

Tentang seorang ibu yang harus memilih antara membayar biaya sekolah anak atau membeli kebutuhan rumah tangga.

Dan tentang sebuah keluarga yang secara statistik sudah keluar dari kemiskinan, tetapi sebenarnya masih berdiri sangat dekat dengan jurang kemiskinan.

Sedikit saja terkena guncangan, mereka bisa jatuh kembali.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar:

“Berapa banyak orang miskin yang sudah kita bantu?”

Persoalan yang lebih besar adalah:

“Berapa banyak orang yang setelah dibantu akhirnya mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri?”

Itulah perbedaan antara sekadar memberikan bantuan dan membangun kehidupan manusia.

KEMISKINAN BUKAN SEKADAR ANGKA

Kita sering melihat kemiskinan melalui angka.

Desil.

Pendapatan.

Pengeluaran.

Garis kemiskinan.

Jumlah penerima bantuan.

Semua itu penting.

Tetapi manusia tidak pernah sesederhana angka.

Seseorang bisa saja hari ini tidak lagi masuk kategori miskin.

Namun besok ia bisa kehilangan pekerjaan.

Ia bisa sakit.

Rumahnya bisa terkena bencana.

Harga kebutuhan pokok bisa naik.

Usahanya bisa bangkrut.

Dan tiba-tiba keluarga yang kemarin terlihat “aman” kembali jatuh dalam kesulitan.

Karena itu, ada orang-orang yang secara resmi belum disebut miskin, tetapi sebenarnya hidup dalam kondisi sangat rentan.

Mereka berdiri di atas tanah yang belum benar-benar kokoh.

Mereka belum jatuh.

Tetapi mereka juga belum aman.

Karena itu, tugas negara bukan hanya mengurangi jumlah orang miskin.

Tugas yang jauh lebih besar adalah membangun masyarakat yang semakin kecil kemungkinannya untuk jatuh miskin kembali.

Inilah yang membuat perlindungan sosial harus berjalan bersama dengan kesempatan ekonomi dan investasi pada manusia.

ANAK TIDAK PERNAH MEMILIH DILAHIRKAN DALAM KELUARGA MISKIN

Ada satu hal yang sering kita lupakan.

Anak tidak pernah memilih keluarganya.

Seorang anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan di rumah yang miskin.

Ia tidak memilih makanan yang kurang bergizi.

Ia tidak memilih sekolah yang kualitasnya buruk.

Ia tidak memilih tinggal di daerah yang jauh dari pelayanan kesehatan.

Ia juga tidak memilih keadaan ekonomi orang tuanya.

Tetapi apa yang ia terima sejak kecil akan sangat menentukan kehidupannya ketika dewasa.

Gizi.

Kesehatan.

Pendidikan.

Keterampilan.

Kesempatan.

Semua itu perlahan membentuk masa depannya.

Karena itu, kalau kita sungguh-sungguh ingin memutus rantai kemiskinan, jangan hanya melihat anak sebagai anggota keluarga miskin.

Lihatlah ia sebagai manusia yang sedang bertumbuh.

Ia adalah masa depan.

Ia adalah potensi.

Ia adalah manusia yang sedang membangun modal kehidupannya.

Pendidikan dan kesehatan bukan sekadar pelayanan.

Keduanya adalah investasi.

Sebab uang yang diberikan hari ini mungkin habis besok.

Tetapi pendidikan yang baik dapat menjadi bekal seseorang selama puluhan tahun.

Makanan yang diberikan hari ini mungkin mengenyangkan.

Tetapi gizi yang baik pada masa pertumbuhan dapat memengaruhi kemampuan seseorang menjalani kehidupannya di masa depan.

Karena itu, kalau kita benar-benar ingin menolong, kita harus belajar melihat lebih jauh daripada hari ini.

JANGAN HANYA BERTANYA: “SIAPA YANG MISKIN?”

Bayangkan ada dua keluarga.

Keluarga pertama secara ekonomi berada dalam kondisi sangat miskin.

Tetapi anak-anaknya sehat.

Mereka bersekolah dengan baik.

Mereka mendapatkan pelayanan kesehatan.

Orang tuanya masih memiliki kemampuan untuk menjaga kehidupan keluarga.

Keluarga kedua secara ekonomi sedikit lebih baik.

Namun anaknya mengalami masalah gizi.

Hampir putus sekolah.

Sulit mendapatkan pelayanan kesehatan.

Dan orang tuanya tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk meningkatkan penghasilan keluarga.

Kalau kita hanya melihat angka kemiskinan, keluarga pertama mungkin lebih dahulu mendapatkan perhatian.

Tetapi kalau kita ingin mencegah kemiskinan diwariskan kepada generasi berikutnya, keluarga kedua juga membutuhkan perhatian serius.

Di sinilah kita belajar:

Data memberi tahu kita posisi seseorang.

Tetapi data belum tentu memberi tahu kita apa yang sebenarnya ia butuhkan.

Karena itu, data sosial seperti DTSEN sangat penting.

Tetapi database bukanlah tujuan pembangunan.

Targeting bukanlah tujuan akhir.

Yang lebih penting adalah memahami manusia yang ada di balik angka tersebut.

Apa kebutuhannya?

Apa risikonya?

Apa yang harus dilakukan?

Kapan intervensi diberikan?

Dan yang paling penting:

Apakah kehidupan orang itu benar-benar berubah?

BANTUAN YANG BAIK HARUS MEMILIKI JALAN KELUAR

Inilah bagian yang sering kita lupakan.

Bantuan seharusnya bukan tempat tinggal.

Bantuan seharusnya menjadi jembatan.

Orang yang sedang jatuh memang harus ditolong.

Tetapi tujuan pertolongan bukan supaya ia selamanya berada di tangan yang menolong.

Tujuannya adalah supaya suatu hari ia mampu berdiri.

Seorang anak dibantu supaya sehat dan mampu belajar.

Seorang remaja dibantu supaya memiliki keterampilan.

Seorang pemuda dibantu supaya memperoleh pekerjaan produktif.

Sebuah keluarga dibantu supaya memiliki ketahanan ekonomi.

Seorang pelaku usaha kecil dibantu supaya usahanya berkembang.

Dan pada akhirnya:

mereka tidak lagi membutuhkan bantuan.

Itulah yang disebut graduation.

Bantuan yang baik bukan bantuan yang membuat seseorang terus menjadi penerima bantuan.

Bantuan yang baik adalah bantuan yang pada waktunya membuat seseorang tidak lagi membutuhkan bantuan.

Betapa indah kalau bantuan sosial tidak hanya membuat seseorang mampu bertahan hidup hari ini, tetapi juga membuatnya mampu membangun hari esok.

TETAPI MENGAPA INI TIDAK MUDAH?

Karena kehidupan politik sering berjalan lebih cepat daripada kehidupan manusia.

Bantuan tunai bisa langsung dirasakan.

Hari ini diberikan, hari ini juga manfaatnya terlihat.

Tetapi memperbaiki kualitas pendidikan membutuhkan waktu.

Memperbaiki gizi anak membutuhkan waktu.

Meningkatkan kualitas guru membutuhkan waktu.

Membangun keterampilan manusia membutuhkan waktu.

Membentuk generasi yang mandiri bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Bisa lima tahun.

Sepuluh tahun.

Bahkan dua puluh tahun.

Di sinilah muncul persoalan besar.

Politik sering berpikir dalam siklus yang pendek.

Sementara pembangunan manusia berpikir dalam siklus yang panjang.

Yang satu bertanya:

“Apa yang bisa terlihat sekarang?”

Yang lain bertanya:

“Manusia seperti apa yang akan kita hasilkan dua puluh tahun mendatang?”

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Orang miskin memang harus dilindungi.

Negara memang mempunyai kewajiban moral dan konstitusional untuk melindungi warga agar tidak jatuh dalam kemiskinan ekstrem.

Tetapi perlindungan saja tidak cukup.

Kita juga harus membangun kemampuan manusia.

Kita harus menyiapkan tangga agar mereka bisa naik.

BANTUAN HARUS MENJADI TANGGA

Bayangkan bantuan sosial sebagai sebuah tangga.

Anak tangga pertama adalah perlindungan.

Ketika seseorang jatuh, kita ulurkan tangan.

Ketika keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, negara hadir.

Ketika seorang anak kekurangan gizi, kita hadir.

Ketika keluarga menghadapi guncangan berat, kita melindungi.

Tetapi jangan berhenti di anak tangga pertama.

Anak tangga berikutnya adalah pengembangan.

Pendidikan.

Kesehatan.

Gizi.

Keterampilan.

Kesempatan kerja.

Produktivitas.

Pendapatan.

Dan akhirnya, anak tangga terakhir:

kemandirian.

Inilah prinsip sederhana:

PROTECT — DEVELOP — GRADUATE

Lindungi.

Kembangkan.

Bantu mereka naik sampai mandiri.

Dengan cara demikian, bantuan sosial bukan lagi sekadar jaring pengaman.

Ia menjadi tangga mobilitas sosial.

Dari perlindungan menuju kesehatan.

Dari kesehatan menuju pendidikan.

Dari pendidikan menuju keterampilan.

Dari keterampilan menuju produktivitas.

Dari produktivitas menuju pendapatan.

Dari pendapatan menuju kemandirian.

KEBERHASILAN BUKAN BERAPA BANYAK UANG YANG DIKELUARKAN

Ada pertanyaan yang perlu kita ubah.

Jangan hanya bertanya:

“Berapa triliun anggaran yang sudah disalurkan?”

Jangan hanya bertanya:

“Berapa juta orang yang sudah menerima bantuan?”

Jangan hanya bertanya:

“Berapa persen anggaran yang sudah terserap?”

Semua itu memang penting.

Tetapi belum cukup.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah anak-anak menjadi lebih sehat?

Apakah mereka tetap bersekolah?

Apakah mereka mampu menyelesaikan pendidikan?

Apakah pemuda mendapatkan pekerjaan yang produktif?

Apakah pendapatan keluarga meningkat?

Apakah keluarga menjadi lebih kuat menghadapi guncangan?

Dan akhirnya:

Apakah keluarga itu sudah mampu hidup tanpa bantuan?

Di situlah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.

Sebab Rp1 triliun yang dibelanjakan bukanlah keberhasilan.

Keberhasilan adalah perubahan kehidupan yang dihasilkan oleh Rp1 triliun tersebut.

JANGAN BIARKAN KEMISKINAN MENJADI WARISAN

Ada warisan yang indah.

Rumah.

Tanah.

Usaha.

Pendidikan.

Nama baik.

Tetapi ada juga warisan yang tidak pernah seharusnya kita biarkan diteruskan:

kemiskinan.

Bukan karena orang miskin harus disalahkan.

Sama sekali bukan.

Kemiskinan sering kali lahir dari begitu banyak keadaan yang tidak dipilih seseorang.

Anak tidak memilih kemiskinan.

Keluarga tidak selalu memilih keadaan ekonominya.

Karena itu, tugas kita bukan menyalahkan mereka.

Tugas kita adalah memutus rantainya.

Jangan sampai seorang anak hanya mewarisi kekurangan orang tuanya.

Jangan sampai kemiskinan hari ini menjadi kemiskinan anak-anak mereka besok.

Jangan sampai bantuan hari ini hanya membuat seseorang bertahan hari ini, tetapi tidak mempunyai jalan untuk keluar dari ketergantungan.

Kita membutuhkan keberanian untuk mengubah cara berpikir.

Dari bantuan menuju investasi.

Dari penerima manfaat menuju manusia yang bertumbuh.

Dari sekadar perlindungan menuju mobilitas sosial.

Dari menghitung berapa orang yang menerima bantuan menuju menghitung berapa kehidupan yang berubah.

PADA AKHIRNYA, KITA SEDANG MEMBANGUN MANUSIA

Indonesia tidak cukup hanya bertanya:

“Bagaimana mengurangi jumlah orang miskin?”

Pertanyaan itu perlu dinaikkan satu tingkat:

“Bagaimana membangun masyarakat yang semakin kecil kemungkinannya untuk menjadi miskin?”

Pertanyaan pertama menghasilkan bantuan.

Pertanyaan kedua menghasilkan investasi.

Pertanyaan pertama melihat rakyat sebagai penerima manfaat.

Pertanyaan kedua melihat rakyat sebagai manusia yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh.

Pertanyaan pertama berorientasi pada hari ini.

Pertanyaan kedua berani memikirkan generasi.

Karena itu, DTSEN dan data sosial tetap penting.

Tetapi data harus menjadi alat, bukan tujuan.

Kita perlu mengetahui bukan hanya siapa yang membutuhkan bantuan, tetapi juga:

apa kebutuhannya,

apa risikonya,

kapan intervensi diberikan,

dan

perubahan apa yang dihasilkan.

Sebab pada akhirnya, pembangunan bukanlah tentang berapa banyak program yang dibuat.

Bukan pula tentang berapa banyak anggaran yang dihabiskan.

Pembangunan adalah tentang manusia yang berubah.

Anak yang dahulu kurang gizi menjadi sehat.

Anak yang hampir putus sekolah kembali belajar.

Remaja yang dahulu tidak mempunyai keterampilan memperoleh pekerjaan.

Keluarga yang dahulu selalu menunggu bantuan akhirnya mampu berdiri sendiri.

Dan sebuah generasi yang dahulu berada di bawah bayang-bayang kemiskinan akhirnya mampu berkata:

“Kami tidak lagi hidup hanya untuk bertahan. Kami sudah mampu membangun masa depan.”

Itulah kemenangan yang sesungguhnya.

Bukan sekadar poverty relief,

tetapi poverty mobility.

Bukan sekadar redistribusi,

tetapi pembentukan manusia.

Bukan sekadar membantu orang miskin hari ini,

tetapi mencegah lahirnya generasi miskin berikutnya.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan hanya berapa banyak orang yang telah diberinya bantuan.

Ukuran keberhasilan yang jauh lebih dalam adalah:

berapa banyak manusia yang akhirnya mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

Dan lebih jauh lagi:

berapa banyak anak yang tidak lagi harus mewarisi kemiskinan orang tuanya.

Itulah saat ketika bantuan berubah menjadi harapan.

Itulah saat ketika perlindungan berubah menjadi kesempatan.

Itulah saat ketika sebuah tangan yang dahulu menerima pertolongan, suatu hari berubah menjadi tangan yang mampu menolong orang lain.

Dan mungkin, di situlah arti terdalam dari pembangunan:

bukan sekadar membuat orang miskin bertahan hidup, tetapi memberi mereka jalan untuk bangkit, bertumbuh, dan menentukan masa depannya sendiri.

.........

Lukas E. Sukoco- Editor (ide tulisan: T. Saptoadi)

Lukas E. Sukoco. Ketua Pengurus CU Angudi Laras Purworejo.

Author Image

Ketua Pengurus CU Angudi Laras

Artikel Terkait: