Selamat datang di website Federasi Nasional Credit Union Indonesia - PUSKOPCUINA
Jam Kerja PUSKOPCUINA Senin s.d. Jumat pukul 07.30 s.d. 15.30 WIB, Efektif Per 4 Maret 2024

Materi Edukasi

Membangun Kemandirian Dari Asset Komunitas dengan Metode ABCD

Share:
Membangun Kemandirian  Dari Asset Komunitas dengan Metode ABCD

UMAT  KRISTEN  di sekitar Tegalrejo Yogyakarta berniat mendirikan bangunan Gereja (1987). Sementara kondisi jemaat dan  masyarakat sekitar  pada  umumnya berasal dari kalangan terpinggirkan secara sosial-ekonomi dan politik.   Di tengah keterbatasan mereka...  Mereka sepakat untuk membangun gereja dengan bahan dasar bambu yang murah ; yang ada pada mereka… dan bahkan ada yang siap menyumbang bambu-bambu miliknya. Singkat cerita; Pembangunan selesai, langsung diresmikan pada 7 Juni tahun itu juga oleh Sri Paduka Paku Alam VIII.      Uniknya, bambu-bambu tidak hanya menjadi bahan bangunan utama gereja ini tetapi juga memenuhi seluruh ruangan. Bangku-bangku, pintu hingga podium/mimbar tempat khotbah  juga dibuat dari bambu. Sekarang dikenal sebagai Gereja (GKJ) Bambu, Tegalrejo Yogyakarta. Tak heran, keunikan bangunan ini telah mendapat perhatian beberapa pihak baik dari dalam maupun luar negeri.  Itulah pentingnya pendekatan yang bertumpu pada potensi – asset yang dimiliki oleh komunitas.    Keren Bukan?            

Gereja (GKJ) Bambu Tegalrejo Yogyakarta adalah salah satu contoh bahwa segala potensi bila didisatukan – dikoordinasikan akan menghasilkan sesuatu yang baik.  Caranya adalah metode pemberdayaan ekoniomi yang juga bertumpu pada potensi/asset yang dimiliki oleh Komunitas.  GKJ BAMBU  hingga masih berdiri megah, indah dan antik wilayah Tegalrejo Yogyakarta.

Jadi, Kegusaran dan kekurangan ternyata bisa berakumulasi dan kemudian berujung pada karya nyata yang tidak saja unik dan kondang bahkan hingga ke mancanegara, tetapi juga memberi sumbangan nyata bagi masyarakat....nah itulah hebatnya : metode pemberdayaan  sosial  ekoniomi yang juga bertumpu pada potensi/asset yang dimiliki oleh Komunitas.  Cara seperti ini  dalam dunia CU dikenal dengan nama Pemberdasayaan Berbasis Komunitas   atau ABCD.    Pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development)

Mengapa pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) ini penting? 

Karena kita sudah terlalu lama  terjebak dalam pola pikir Deficit Based Approach[1]atau dalam Bahasa Jawanya disebut sebagai “Pola Pikir Nyremimih[2]: —yang selalu melihat orang miskin sebagai orang lemah segala-galanya, tidak mampu, tidak  berdaya, tak punya apa-apa,dan perlu ditolong. Ini Sesat Pikir !

 

Mari kita dalami hal ini lebih lanjut:

  1. ABCD   Pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development) vs DBA (Deficit Based Approach  ) Dalam CU

Maka berhati-hatilah, pendekatan dan pola pikirDeficit Based Approach   bisa menghalangi  daya kreativitas, kemajuan, tekad semangat dan keberhasilan untuk hidup yang lebih baik. Ingat Cerita  GKJ  BAMBU tsb...

Jangan kita selalu melihat orang miskin sebagai orang yang lemah segala-galanya, tidak mampu, tidak  berdaya, sama sekali tidak punya potensi dan perlu ditolong.   

Padahal, sesungguhnya setiap orang, sekecil apapun, memiliki potensi, kemampuan, jaringan, dan pengalaman hidup yang berharga. Jika dikelola dan dikoneksikan dengan baik, aset-aset ini bisa menjadi daya dorong yang luar biasa untuk perubahan sosial dan ekonomi ke arah yang lebih baik.

  1. Dalam konteks ini, marilah kita belajar tentang pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) menjadi sungguh sangat relevan. ABCD adalah sebuah pendekatan yang menekankan pada kekuatan (aset) yang sudah dimiliki oleh komunitas CU kita, bukan pada kekurangannya. Dengan ABCD, anggota tidak dipandang sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai pelaku perubahan. Mereka adalah pemilik kekuatan yang bisa digerakkan untuk kemajuan bersama.    Sekali lagi ; pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) menjadi sangat relevan dalam kehidupan komunitas, khususnya Credit Union. ABCD adalah sebuah pendekatan yang menekankan pada kekuatan (aset) yang sudah dimiliki oleh komunitas, bukan pada kekurangannya. Dengan ABCD, anggota tidak dipandang sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai pelaku perubahan. Mereka adalah pemilik kekuatan yang bisa digerakkan untuk kemajuan bersama.   Credit Union (CU) adalah  sebuah gerakan sosial yang berakar pada semangat kebersamaan, saling percaya, dan solidaritas anggota. Itulah sebabnya, di tengah arus kapitalisme global dan ketimpangan ekonomi yang makin nyata, komunitas-komunitas lokal sering kali menjadi pihak yang paling rentan dan terpinggirkan. Dalam situasi ini, Credit Union (CU) hadir bukan sekadar sebagai lembaga keuangan, tetapi sebagai gerakan pemberdayaan yang bertumpu pada kekuatan kolektif komunitas. CU memberikan ruang bagi masyarakat kecil untuk mengakses simpanan dan pinjaman dengan prinsip solidaritas, tanggung jawab, dan kemandirian ekonomi. CU bekerja dengan prinsip "dari anggota, oleh anggota, untuk anggota", yang memberi ruang partisipasi aktif dan kepemilikan bersama. Hal ini berbeda dengan sistem keuangan konvensional yang cenderung berpusat pada keuntungan pemilik modal. Dalam CU, keuntungan dikembalikan ke anggota dan komunitas melalui Sisa Hasil Usaha (SHU), pendidikan anggota, dan penguatan ekonomi lokal. Lebih dari itu, CU juga menjadi sarana penguatan nilai-nilai sosial seperti kepercayaan, gotong royong, dan keadilan sosial. Dalam masyarakat pedesaan atau komunitas marginal, CU kerap kali menjadi satu-satunya lembaga yang peduli terhadap kebutuhan riil warga.
  2. CU & Tantangan Umum dalam Pemberdayaan Masyarakat

           Meski potensi CU sangat besar, pelaksanaan pemberdayaan masyarakat sering kali menghadapi berbagai tantangan, antara lain:

(a). Ketergantungan pada Bantuan Eksternal
Banyak program pemberdayaan dimulai dari asumsi bahwa komunitas miskin karena kekurangan. Akibatnya, pendekatan yang digunakan bersifat need-based, yang justru menciptakan ketergantungan dan melemahkan potensi lokal.

(b). Kurangnya Partisipasi dan Kepemilikan
Dalam beberapa kasus, program pembangunan dirancang secara top-down tanpa melibatkan masyarakat. Ini menyebabkan rendahnya rasa memiliki dan partisipasi aktif dalam proses perubahan.

(c). Minimnya Pemetaan Aset dan Potensi Lokal
Masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa mereka memiliki banyak aset: keterampilan, jaringan sosial, lahan, budaya, bahkan nilai-nilai spiritual. Potensi ini sering diabaikan karena lebih fokus pada kekurangan dan permasalahan.

(d). Kelelahan Program dan Keti-dakberlanjutan
Banyak program komunitas berumur pendek karena tidak dibangun atas dasar kekuatan komunitas itu sendiri. Kegiatan hanya bertahan selama ada pendanaan dari luar.


       3.  Perkenalan Metode ABCD

Asset-Based Community Development (ABCD) hadir sebagai alternatif, lebih dari sekedar pendekatan yang fokus pada kekurangan (need-based). ABCD menempatkan komunitas sebagai pelaku utama pembangunan, dengan titik tolak pada aset dan segala potensi yang telah dimiliki. Aset ini bisa berupa:

  1. Aset individu (keterampilan, talenta, pengalaman)
  2. Aset sosial (jaringan, organisasi lokal, solidaritas)
  3. Aset fisik (bangunan, lahan, infrastruktur)
  4. Aset institusional (sekolah, gereja, CU)
  5. Aset ekonomi (usaha kecil, sumber daya alam)
  6. Aset spiritual dan budaya (nilai, tradisi, keyakinan)\

Kalau kita cermati secara mendalam...  Sejatinya  ABCD bukanlah metode baru yang tiba-tiba hadir dari luar.  Sesungguhnya  ABCD  juga   merefleksikan praktik-praktik lokal yang sudah lama hidup, seperti gotong royong, arisan, gugur gunung (kerja bhakti),lumbung desa, jimpitan, atau koperasi.  Namun, harus kita akui  bahwa  ABCD memberi kerangka yang lebih sistematis untuk mengenali, memetakan, dan menggerakkan aset komunitas dalam proses perubahan sosial.

Dalam konteks Credit Union, ABCD menjadi pendekatan yang sangat relevan. Ia memperkuat semangat CU dalam membangun kemandirian ekonomi dengan menggali kekuatan dari dalam komunitas. Pendekatan ini juga selaras dengan prinsip iman, bahwa setiap manusia diciptakan Allah dengan potensi dan panggilan untuk menjadi berkat bagi sesama.   

MARILAH  KITA  BERSAMA  MENDALAMI  &  MEMPRAKTEKKAN  METODE  ABCD   ..... !

 

[1] https://www.kompasiana.com/aguselpin8600/63651da908a8b506174f4775/pemimpin-dalam-pengelolaan-sumber-daya?page=3&page_images=1

[2]Nyremimih adalah ungkapan  yang menunjuk pada sikap  putus-asa/ frustrasi, kehilangan pilihan dalam hidup, tiada wibawa, dan pesimis.

 

Banyak yang salah persepsi, dikiranya Credit Union (CU) adalah semata-mata hanya bagian dari Koperasi Simpan Pinjam (KSP);[1]padahal sejatinya, Credit Union (CU) bukan hanya lembaga keuangan, tetapi secara hakiki CU adalah sebuah gerakan sosial yang berakar pada semangat kebersamaan, saling percaya, dan solidaritas anggota. Di tengah dinamika sosial-ekonomi yang terus berubah, CU dihadapkan pada tantangan untuk tetap relevan dan berdampak, terutama dalam pemberdayaan komunitas akar rumput anggotanya.


 

[1] Silahkan baca selengkapnya di https://repository.unissula.ac.id/30944/1/10302000025.pdf

 

  
 

[1] https://jogja.sorot.co/berita-9969-gkj-tegalrejo-satu-satunya-gereja-dari-bambu-di-indonesia-kondang-hingga-ke-mancanegara.html


 

[1] https://jogja.sorot.co/berita-9969-gkj-tegalrejo-satu-satunya-gereja-dari-bambu-di-indonesia-kondang-hingga-ke-mancanegara.html

Author Image

Ketua Pengurus CU Angudi Laras

Artikel Terkait: