DIAKONIA TRANSFORMATIF : Gereja & CU yang Memberdayakan Umat dan Masyarakat Sekitarnya
Ada satu pertanyaan penting yang perlu direnungkan oleh setiap gereja: Apakah
kehadiran gereja sungguh-sungguh membawa perubahan bagi kehidupan manusia,
ataukah gereja hanya sibuk menjalankan berbagai kegiatan keagamaan dengan aneka
upacara ritualnya saja?
Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan ibadah dengan pelayanan sosial. Ibadah, doa,
pemberitaan Firman, dan pembinaan iman tetap menjadi bagian utama dari
panggilan gereja. Namun, gereja perlu menyadari bahwa kehidupan jemaat tidak
hanya berlangsung di dalam gedung gereja. Setelah kebaktian selesai, setiap
orang kembali menghadapi kenyataan hidupnya masing-masing.
Ada keluarga yang harus memikirkan biaya pendidikan anak. Ada orang tua yang bekerja keras, tetapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ada warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian dan dukungan. Ada pelaku usaha kecil yang berjuang mempertahankan usahanya. Ada pula keluarga yang diam-diam terlilit utang, tetapi tetap berusaha tersenyum ketika mengikuti ibadah.
Persoalan seperti itu sering tidak terlihat dari wajah seseorang ketika ia duduk di bangku gereja. Namun, persoalan tersebut benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, gereja tidak boleh hanya mengenal jemaat melalui kehadirannya dalam kebaktian. Gereja perlu mengenal kehidupan mereka, mendengarkan pergumulan mereka, dan memahami kebutuhan yang mereka hadapi.
Iman Kristen tidak berhenti pada pengakuan bahwa Allah mengasihi manusia. Iman juga
mendorong orang percaya untuk menghadirkan kasih itu melalui tindakan nyata.
Yesus tidak hanya mengajar orang banyak, tetapi juga menjumpai mereka yang
lapar, sakit, tersisih, dan kehilangan harapan.
Dalam Matius 25:35–40, Yesus mengingatkan bahwa tindakan kita kepada sesama yang
membutuhkan merupakan bagian dari pelayanan kepada-Nya. Pesan ini memberikan
dasar yang kuat bagi gereja untuk menghadirkan pelayanan yang menyentuh
kehidupan manusia secara utuh.
Gereja yang hidup bukan hanya gereja yang ramai dalam ibadah, melainkan gereja yang
kehadirannya membawa pengharapan bagi orang-orang yang sedang berjuang
menjalani kehidupan. Ketika Diakonia Harus Bergerak Lebih Jauh
Selama ini, banyak gereja memahami diakonia sebagai kegiatan memberikan bantuan kepada
orang yang mengalami kesulitan. Gereja memberikan sembako, bantuan pendidikan,
biaya pengobatan, santunan kepada warga lanjut usia, dan pertolongan kepada
keluarga yang mengalami keadaan darurat.
Semua bentuk pertolongan tersebut sangat penting. Ketika seseorang lapar, ia
membutuhkan makanan. Ketika keluarga menghadapi keadaan darurat, mereka
membutuhkan pertolongan segera. Gereja tidak boleh menunda bantuan ketika
sesama sedang membutuhkan pertolongan.
Namun, kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam: apakah pelayanan diakonia cukup berhenti setelah bantuan diberikan?
Sebuah keluarga mungkin menerima bantuan kebutuhan pokok hari ini, tetapi bagaimana
keluarga tersebut memenuhi kebutuhan hidup pada bulan berikutnya? Seorang ibu
mungkin memperoleh bantuan biaya sekolah anak, tetapi bagaimana ia dapat
mengembangkan penghasilan keluarga? Seorang warga jemaat mungkin memperoleh
bantuan untuk membayar sebagian utangnya, tetapi bagaimana ia dapat mengelola
keuangan agar tidak kembali terjebak dalam persoalan yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengajak gereja untuk memperluas pemahaman tentang diakonia.
Dalam pelayanan gereja, kita mengenal tiga pendekatan diakonia, yaitu karitatif,
reformatif, dan transformatif. Ketiganya bukan pendekatan yang harus
dipertentangkan. Ketiganya justru dapat saling melengkapi.
Diakonia karitatif memberikan pertolongan langsung untuk meringankan penderitaan.
Diakonia reformatif memperkuat kemampuan manusia melalui pendidikan, pelatihan,
dan pendampingan. Sementara itu, diakonia transformatif berusaha mengubah
keadaan yang membuat seseorang atau kelompok masyarakat terus berada dalam
ketidakberdayaan.
Ketiga pendekatan tersebut memberikan arah bagi gereja untuk mengembangkan pelayanan
yang lebih utuh.
Gereja tetap perlu memberikan bantuan ketika seseorang menghadapi keadaan darurat.
Namun, gereja juga perlu mendampingi orang tersebut agar mampu menemukan jalan
pemulihan. Gereja perlu memberikan ruang bagi warga untuk belajar,
mengembangkan keterampilan, mengenali potensi, dan membangun kemandirian.
Disinilah diakonia bergerak dari sekadar memberi menuju memberdayakan.
Pemberdayaan bukan berarti gereja berhenti memberikan bantuan. Pemberdayaan berarti gereja
tidak membiarkan pelayanan berhenti pada pemberian bantuan. Gereja melanjutkan
pertolongan melalui pendidikan, pendampingan, penguatan kemampuan, dan pembukaan
kesempatan.
Kasih yang sejati bukan hanya mengulurkan tangan ketika seseorang jatuh, tetapi juga
bersedia mendampingi ketika ia sedang belajar bangkit.

Credit Union: Bukan Sekadar Tempat Menyimpan dan Meminjam Uang
Dalam
upaya mengembangkan diakonia yang memberdayakan, gereja membutuhkan mitra yang
memiliki kompetensi dan pengalaman. Salah satu mitra yang dapat dikembangkan
adalah Credit Union (CU). Sayangnya, sebagian masyarakat masih memahami Credit Union sebatas tempat menyimpan uang dan mengajukan pinjaman. Pemahaman tersebut belum menggambarkan keseluruhan semangat gerakan Credit Union.
Credit Union merupakan gerakan koperasi keuangan yang menempatkan pendidikan, swadaya,
solidaritas, dan tanggung jawab anggota sebagai bagian penting dari pemberdayaan. CU bukan
sekadar berbicara tentang berapa banyak uang yang dapat dipinjam seseorang. CU
juga berbicara tentang bagaimana manusia belajar mengelola uang, membangun
kebiasaan menabung, merencanakan masa depan, menggunakan pinjaman secara
bertanggung jawab, dan memperkuat kehidupan ekonomi keluarga.
Pendidikan keuangan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Seseorang perlu belajar
membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran rumah tangga, mencatat
pemasukan dan pengeluaran, memahami risiko pinjaman, serta mempertimbangkan
kemampuan sebelum mengambil keputusan keuangan. Keterampilan tersebut tampaknya sederhana, tetapi memiliki arti penting bagi kehidupan
keluarga.
Kita dapat membayangkan seorang ibu yang memiliki usaha kecil. Selama ini, ia menjalankan
usaha tanpa mencatat modal, biaya produksi, dan keuntungan. Akibatnya, uang
hasil penjualan sering bercampur dengan uang kebutuhan rumah tangga. Ia merasa
usahanya berjalan, tetapi tidak mengetahui apakah usahanya benar-benar
menghasilkan keuntungan.
Melalui pendidikan dan pendampingan yang tepat, ia dapat belajar menghitung biaya
produksi, mencatat hasil penjualan, memisahkan keuangan usaha dari keuangan
keluarga, dan merencanakan pengembangan usaha.
Perubahan seperti ini tidak selalu menghasilkan peningkatan pendapatan dalam waktu
singkat. Namun, perubahan tersebut membangun kemampuan seseorang untuk
mengambil keputusan yang lebih baik.
Hal yang sama berlaku bagi keluarga yang memiliki kebiasaan meminjam uang tanpa
perencanaan. Mereka membutuhkan pemahaman mengenai kewajiban pembayaran,
kemampuan mencicil, biaya pinjaman, dan risiko apabila tidak mampu memenuhi
kewajibannya. Karena itu, CU yang sehat tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah anggota dan besarnya pinjaman. CU perlu memperhatikan kualitas pendidikan anggota, kesehatan
lembaga, perlindungan anggota, dan manfaat nyata bagi kehidupan keluarga.

Dalam perspektif diakonia, nilai Credit Union terletak pada kemampuannya membantu
manusia bertumbuh menjadi pribadi yang lebih berpengetahuan, bertanggung jawab,
mandiri, dan memiliki harapan.
Namun, kita juga perlu bersikap realistis. CU bukan satu-satunya jawaban bagi
persoalan kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi. Tidak semua persoalan dapat
diselesaikan melalui tabungan atau pinjaman. Persoalan kesehatan, keterbatasan
lapangan pekerjaan, rendahnya pendapatan, pendidikan, dan ketimpangan
kesempatan membutuhkan dukungan yang lebih luas. Oleh sebab itu, gereja perlu menempatkan CU sebagai salah satu mitra pemberdayaan,
bukan sebagai satu-satunya jalan keluar.
Gereja dan Credit Union: Berbeda Peran, Satu
Kepedulian
Kemitraan gereja dengan Credit Union memiliki peluang yang besar apabila kedua pihak
memahami panggilan dan tanggung jawab masing-masing.
Gereja memiliki tugas untuk memberitakan Injil, membina iman, membangun persekutuan, memberikan pelayanan pastoral, dan menghadirkan diakonia. Sementara itu, CU memiliki kompetensi dalam pendidikan keuangan, pengelolaan simpanan dan pinjaman, pengembangan kapasitas anggota, serta penguatan ekonomi bersama.
Keduanya dapat bekerja sama tanpa harus mencampuradukkan fungsi kelembagaan.
Gereja tidak perlu berubah menjadi lembaga keuangan. Sebaliknya, CU tidak perlu
mengambil alih pelayanan pastoral gereja. Gereja dapat mengenali kebutuhan
jemaat dan menghubungkan mereka dengan pelayanan serta pendidikan yang sesuai.
CU dapat memberikan kontribusi berdasarkan kompetensi dan prinsip
kelembagaannya.
Kemitraan ini harus dibangun dengan prinsip kesukarelaan, keterbukaan, tanggung jawab,
dan penghormatan terhadap martabat manusia. Tidak
seorang pun boleh dipaksa menjadi anggota CU hanya karena ia menjadi warga
jemaat. Tidak seorang pun boleh merasa wajib mengambil pinjaman karena gereja
bekerja sama dengan CU. Pendeta dan majelis juga tidak boleh menggunakan
kewibawaan rohani untuk mendorong keputusan keuangan tertentu.
Setiap orang harus memiliki kebebasan untuk menentukan keputusan keuangannya
berdasarkan kebutuhan dan kemampuan sendiri.
Gereja juga harus menjaga kerahasiaan informasi mengenai pendapatan, simpanan, pinjaman,
dan persoalan ekonomi keluarga. Pelayanan pemberdayaan tidak boleh membuat
seseorang merasa dipermalukan karena keadaan ekonominya. Kemitraan yang sehat justru membangun kepercayaan. Gereja dan CU harus saling menghormati, saling menguatkan, dan bekerja sesuai tanggung jawab masing-masing. Dalam konteks ini, Credit Union dapat menjadi salah satu sarana untuk menghadirkan diakonia yang lebih terencana dan berkelanjutan. Pendidikan keuangan keluarga, pendampingan usaha kecil, pembentukan kebiasaan menabung, dan penguatan
solidaritas anggota merupakan beberapa bentuk kerja sama yang dapat
dikembangkan. Yang perlu kita ingat, tujuan kemitraan bukan memperbanyak transaksi keuangan atau
mengejar jumlah anggota. Tujuan utamanya adalah memperluas kesempatan manusia
untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Pemberdayaan Harus Memulihkan Manusia, Bukan Hanya Ekonominya
Ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika gereja berbicara tentang pemberdayaan
ekonomi. Persoalan ekonomi sebenarnya tidak pernah berdiri sendiri.
Di balik keluarga yang terlilit utang, mungkin terdapat orang tua yang kehilangan
ketenangan karena memikirkan biaya pendidikan anak. Di balik usaha kecil yang
berhenti berkembang, mungkin terdapat seseorang yang mulai kehilangan
kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri. Di balik warga jemaat yang semakin
jarang mengikuti persekutuan, mungkin terdapat pergumulan yang tidak pernah
diceritakan kepada siapa pun.
Tekanan ekonomi dapat memengaruhi hubungan suami istri, komunikasi orang tua dengan
anak, kesehatan pikiran, kehidupan sosial, bahkan semangat seseorang untuk
menjalani kehidupan. Karena
itu, pemberdayaan tidak boleh hanya diukur melalui peningkatan pendapatan atau
bertambahnya jumlah tabungan. Pemberdayaan juga harus memperhatikan pemulihan martabat,
pertumbuhan harapan, kemampuan mengambil keputusan, dan kekuatan seseorang
untuk kembali terlibat dalam kehidupan bersama.
Gereja perlu belajar melihat manusia secara utuh. Jangan
sampai gereja hanya mengenal seseorang berdasarkan masalah yang sedang
dihadapinya. Jangan sampai orang yang terlilit utang selalu dipandang sebagai
orang yang gagal mengatur keuangan. Jangan sampai keluarga yang membutuhkan
bantuan terus-menerus ditempatkan sebagai objek pelayanan.
Setiap manusia memiliki martabat dan potensi yang harus dihargai. Seorang ibu yang
sedang mengalami kesulitan ekonomi mungkin memiliki keterampilan yang dapat
dikembangkan. Seorang pemuda yang belum memperoleh pekerjaan mungkin mempunyai
kemampuan yang dapat berguna bagi masyarakat. Seorang warga lanjut usia mungkin
memiliki pengalaman dan kebijaksanaan yang dapat diwariskan kepada generasi
berikutnya.
Gereja perlu menemukan potensi tersebut dan membuka kesempatan agar setiap orang dapat
mengembangkannya. Dalam
Markus 10:46–52, Yesus bertanya kepada Bartimeus, "Apa yang kaukehendaki
supaya Aku perbuat bagimu?" Pertanyaan itu memperlihatkan bahwa Yesus
memberikan ruang kepada orang yang membutuhkan pertolongan untuk menyampaikan
keinginan dan harapannya.
Gereja dapat belajar dari sikap tersebut. Gereja perlu mendengarkan sebelum memutuskan
bentuk pelayanan. Gereja perlu memahami kebutuhan sebelum menyusun program.
Gereja perlu menghormati suara orang yang didampingi. Dengan demikian,
pemberdayaan tidak menjadikan manusia sebagai objek kegiatan, melainkan
mengajak mereka menjadi pelaku perubahan dalam kehidupannya sendiri.
Diakonia Holistik: Menghadirkan Kasih dalam Seluruh Aspek Kehidupan
Gereja yang memberdayakan harus memiliki pandangan yang utuh terhadap kehidupan
manusia. Manusia tidak hanya membutuhkan kekuatan rohani, tetapi juga
membutuhkan dukungan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan hubungan yang
baik dengan lingkungannya.
Karena itu, pelayanan gereja tidak boleh berjalan secara terpisah-pisah. Pelayanan
pastoral perlu memperhatikan keadaan keluarga. Pelayanan pendidikan perlu
membuka kesempatan bagi warga untuk mengembangkan kemampuan. Pelayanan sosial
perlu membangun solidaritas. Pelayanan ekonomi perlu membantu keluarga
mengelola sumber daya secara bijaksana ... Semua bidang pelayanan tersebut perlu saling mendukung.
Inilah yang disebut diakonia holistik. Diakonia holistik atau Diakonia TRANSFORMATIF tidak hanya memperhatikan satu kebutuhan manusia, tetapi berusaha memahami dan mendampingi kehidupan
manusia secara menyeluruh.
Sebagai contoh, ketika gereja menemukan sebuah keluarga yang mengalami kesulitan
ekonomi, gereja tidak perlu langsung memutuskan bahwa keluarga tersebut hanya
membutuhkan bantuan uang. Gereja perlu mendengarkan keadaan keluarga, memahami
sumber persoalan, mengenali kemampuan yang dimiliki, dan mempertimbangkan
dukungan yang paling sesuai. Mungkin keluarga tersebut membutuhkan bantuan darurat. Mungkin mereka membutuhkan pendidikan pengelolaan keuangan. Mungkin salah satu anggota keluarga
membutuhkan pelatihan keterampilan atau pendampingan usaha. Mungkin pula mereka
membutuhkan dukungan pastoral untuk memulihkan hubungan keluarga yang terganggu
akibat tekanan ekonomi.
Gereja dapat bekerja sama dengan Credit Union dan lembaga lain sesuai kebutuhan
tersebut. Pemberdayaan
juga membutuhkan proses evaluasi. Gereja tidak cukup hanya menghitung jumlah
kegiatan, jumlah peserta, atau jumlah bantuan yang dibagikan. Gereja perlu
melihat perubahan yang benar-benar dirasakan oleh warga.
Apakah keluarga mulai mampu menyusun anggaran? Apakah mereka semakin memahami risiko
pinjaman? Apakah pelaku usaha mulai mampu menghitung biaya dan keuntungan?
Apakah warga memiliki keberanian untuk merencanakan masa depan? Apakah
solidaritas dalam komunitas semakin kuat?
Pertanyaan tersebut membantu gereja melihat apakah pelayanan yang dilakukan benar-benar
membawa manfaat. Keberhasilan
pemberdayaan memang tidak selalu dapat dilihat dalam waktu singkat. Perubahan
kebiasaan membutuhkan waktu. Pengembangan usaha membutuhkan ketekunan.
Pemulihan hubungan keluarga membutuhkan kesabaran. Karena itu, gereja harus
menghargai setiap proses pertumbuhan. Gereja tidak boleh menghakimi seseorang hanya karena perubahan hidupnya berjalan
lambat. Gereja harus tetap memberikan pendampingan dengan kasih, kebijaksanaan,
dan tanggung jawab.
Saatnya Gereja Berubah dari Program Menjadi Gerakan
Menjadi gereja yang memberdayakan tidak harus dimulai dengan program besar atau
anggaran yang mahal. Gereja dapat memulainya dari kebutuhan nyata dan kemampuan
yang tersedia. Setiap gereja dapat mengambil tujuh langkah sederhana.
Pertama, gereja perlu mendengarkan jemaat. Pendeta, majelis, dan tim diakonia perlu mengenali pergumulan, kebutuhan, keterampilan, serta harapan warga tanpa memberikan penilaian yang merendahkan.
Kedua, gereja perlu menetapkan prioritas. Gereja harus memilih kebutuhan yang paling mendesak dan memungkinkan untuk ditangani secara realistis.
Ketiga, gereja perlu membangun kemitraan. Gereja dapat bekerja sama dengan Credit Union, lembaga pendidikan, pelaku usaha, pemerintah, dan berbagai pihak yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat.
Keempat, gereja perlu menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan keuangan keluarga, pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, dan pembinaan kepemimpinan dapat menjadi bagian dari pelayanan pemberdayaan.
Kelima, gereja perlu mendampingi proses perubahan. Gereja tidak cukup hanya menyelenggarakan pelatihan satu kali. Gereja perlu memberikan kesempatan kepada warga untuk belajar, mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki langkah.
Keenam, gereja perlu mengukur manfaat. Gereja perlu menilai perubahan dalam pengetahuan, kebiasaan, kemampuan, pengambilan keputusan, dan kehidupan sosial ekonomi peserta.
Ketujuh, gereja perlu menjaga keberlanjutan. Gereja harus memasukkan pemberdayaan ke dalam perencanaan pelayanan dan menyiapkan orang-orang yang mampu meneruskan gerakan tersebut.
Langkah-langkah tersebut tidak harus dilaksanakan sekaligus. Gereja dapat memulainya dengan
satu kelompok kecil, satu kegiatan pendidikan keuangan, atau satu keluarga yang
membutuhkan pendampingan. Yang terpenting, gereja memiliki kemauan untuk memulai dan kesediaan untuk berjalan bersama. Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pelayanan. Keberhasilan gereja bukan hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang dilaksanakan,
besarnya dana yang dikeluarkan, atau ramainya peserta yang hadir. Keberhasilan
pelayanan juga terlihat ketika warga yang dahulu hanya menerima bantuan mulai
memiliki kemampuan untuk menolong orang lain. Keberhasilan terlihat ketika
keluarga yang dahulu kehilangan harapan mulai berani merencanakan masa depan.
Keberhasilan terlihat ketika komunitas semakin kuat karena anggotanya bersedia
saling menopang.
Pada akhirnya, pemberdayaan bukan hanya urusan satu tim diakonia atau satu lembaga
mitra. Pemberdayaan harus menjadi budaya pelayanan seluruh gereja. Gereja
perlu membangun persekutuan yang memberi ruang kepada setiap orang untuk
bertumbuh, mengambil bagian, dan mengembangkan potensi yang Tuhan karuniakan.
Penutup: Gereja yang Memberdayakan adalah Gereja yang Menghidupkan Harapan
Saya percaya bahwa gereja memiliki tanggung jawab yang besar untuk menghadirkan
kasih Kristus dalam kehidupan nyata. Gereja tidak boleh merasa cukup hanya
karena telah menyelenggarakan ibadah dengan baik, memiliki gedung yang megah,
atau menjalankan berbagai kegiatan rutin.
Semua itu penting, tetapi gereja juga perlu bertanya: apakah kehadiran kita
sungguh-sungguh dirasakan oleh keluarga yang sedang mengalami kesulitan? Apakah
pelayanan kita membantu warga mengembangkan kemampuan? Apakah kita telah
membuka kesempatan bagi mereka yang selama ini kurang memperoleh perhatian?
Pertanyaan tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama.
Kita tidak sedang membangun gereja yang hanya sibuk mengurus program. Kita sedang
membangun gereja yang peduli terhadap kehidupan manusia. Kita tidak sedang
menjadikan Credit Union sebagai pusat pelayanan gereja. Kita sedang mencari
jalan agar pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan solidaritas dapat menjadi
bagian dari perwujudan kasih Kristus. Gereja tetap harus menjadi gereja yang berpusat pada Kristus, memberitakan Injil, membina iman, dan membangun persekutuan. Namun, gereja juga harus berani hadir
di tengah persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.
Credit Union dapat menjadi salah satu mitra penting dalam perjalanan tersebut. Melalui
pendidikan, swadaya, kebiasaan menabung, pinjaman yang bertanggung jawab, dan
solidaritas, CU dapat membantu memperluas kesempatan bagi manusia untuk
membangun kehidupan yang lebih baik. n Namun,
kita harus selalu mengingat bahwa manusia jauh lebih berharga daripada
angka-angka dalam laporan keuangan. Martabat manusia tidak boleh dikorbankan
demi pencapaian program. Kasih tidak boleh berubah menjadi tekanan.
Pemberdayaan tidak boleh menjadi alasan untuk menyalahkan orang yang belum
berhasil secara ekonomi.
Gereja harus tetap menjadi tempat yang aman bagi setiap orang untuk datang, bercerita,
memperoleh penguatan, dan menemukan kembali harapan
Sebab, gereja yang memberdayakan bukanlah gereja yang membuat orang terus bergantung pada pertolongan, melainkan gereja yang menolong sesama menemukan kembali kekuatan, kemampuan, dan harapan untuk menjalani kehidupan.
Inilah n makna diakonia yang memulihkan kehidupan. Ketika
gereja hadir dengan kasih, Credit Union hadir dengan pendidikan dan
pemberdayaan, serta masyarakat bertumbuh dalam solidaritas, kita sedang
membangun kehidupan bersama yang lebih baik. Karena
gereja yang sungguh-sungguh hidup bukan hanya gereja yang mampu menolong orang
lain, tetapi gereja yang mampu membuat kehidupan sesamanya semakin bertumbuh.
Lukas E. Sukoco
Penggiat Pelayanan di Gereja dan di Credit Uniuon Indonesia
Ketua Pengurus CU Angudi Laras



