Selamat datang di website Federasi Nasional Credit Union Indonesia - PUSKOPCUINA
Jam Kerja PUSKOPCUINA Senin s.d. Jumat pukul 07.30 s.d. 15.30 WIB, Efektif Per 4 Maret 2024

Materi Edukasi

MENJADI CU YANG MATANG: Belajar dari Tahap-Tahap Perkembangan Organisasi Bruce W. Tuckman

Share:
MENJADI  CU YANG MATANG:  Belajar dari Tahap-Tahap Perkembangan Organisasi Bruce W. Tuckman

Jujur saja ....Tulisan ini adalah  Tulisan ku yang Ke Tiga ;  Yang merupakan salah satu point penting yang ku dapatkan setelah mengikuti OD – Organizational Development  di Puskop CU Indonesia – yang difasilitasi oleh seniorku  Pastor DR. Fredy Rante Tarukh, Pr. Di Aula Raeffeisen Pontianak, 28-29/1-2025. Saya bersyukur bisa hadir sebagai Anggota Komite KP.4 PuskopCUina. Tulisan ini kubuat menjadi “oleh-oleh”  buat para insan CU  yang sekalipun tidak bisa mengikuti kegiatan di Federasi Nasional CU, namun tetap bisa merasan manfaatnya. 

Credit Union (CU) bukan sekadar lembaga keuangan. Ia adalah gerakan sosial-ekonomi yang lahir dari semangat solidaritas, kepercayaan, dan pemberdayaan anggota. Karena itu, Credit Union adalah organisasi hidup: ia lahir, bertumbuh, mengalami konflik, belajar dari kesalahan, dan—jika dikelola dengan bijak—menjadi matang dan berkelanjutan. Namun dalam praktiknya, banyak Credit Union terjebak pada dua ekstrem. Di satu sisi, ada CU yang takut konflik dan menganggap perbedaan pendapat sebagai tanda kegagalan. Di sisi lain, ada CU yang ingin langsung tampil hebat (performing) tanpa memberi ruang pada proses pembelajaran organisasi. Akibatnya, konflik dipendam, relasi rusak, dan tata kelola melemah.

Di sinilah teori perkembangan kelompok dari Bruce W. Tuckman menjadi sangat relevan. Melalui empat tahap klasik—Forming, Storming, Norming, dan Performing—Tuckman menolong kita memahami bahwa konflik dan ketegangan bukanlah musuh organisasi, melainkan bagian alami dari proses menuju kematangan.  Tulisan populer ini mengajak kita membaca perjalanan Credit Union melalui lensa Tuckman, sekaligus merefleksikannya dengan nilai-nilai dasar gerakan CU: kepercayaan, partisipasi, demokrasi, dan integritas.

1. Credit Union sebagai Organisasi yang Bertumbuh

Credit Union tidak dibangun dalam ruang hampa. Ia lahir dari konteks sosial tertentu: kemiskinan, keterbatasan akses keuangan, dan kerinduan akan keadilan ekonomi. Karena itu, sejak awal CU membawa ideal moral sekaligus tantangan praktis. Sebagaimana manusia bertumbuh dari bayi hingga dewasa, organisasi pun mengalami tahapan perkembangan. Organisasi yang matang bukan organisasi tanpa masalah, melainkan organisasi yang mampu belajar dari masalah.  Kesalahan umum yang sering terjadi dalam CU antara lain:   (a).Menganggap konflik sebagai tanda kegagalan pengurus atau manajemen   (b).Menyamakan keseragaman dengan kekompakan   (c).Menghindari dialog sulit demi “rukun semu”   (d).Terlalu cepat mengejar kinerja finansial tanpa membangun budaya organisasi.   Padahal, organisasi yang sehat justru memberi ruang aman bagi perbedaan, kritik, dan proses pendewasaan bersama.

2. Sekilas tentang Teori Tuckman

Bruce W. Tuckman, seorang psikolog organisasi, pada tahun 1965 memperkenalkan model perkembangan kelompok yang kemudian sangat berpengaruh. Model ini menjelaskan bahwa kelompok atau organisasi berkembang melalui tahapan yang relatif dapat diprediksi:

  1. Forming – tahap pembentukan
  2. Storming – tahap konflik
  3. Norming – tahap penataan
  4. Performing – tahap kinerja

Belakangan, Tuckman menambahkan tahap kelima (Adjourning), namun dalam konteks Credit Union, empat tahap awal sudah sangat kaya untuk dibaca.   Penting dicatat: tahapan ini bukan tangga lurus. Organisasi bisa maju-mundur, bahkan terjebak lama di satu tahap jika tidak ada kepemimpinan yang reflektif.

3. TAHAP  FORMING : Ketika Credit Union Dilahirkan

Tahap forming adalah masa awal berdirinya Credit Union atau masa awal sebuah kepengurusan baru. Suasana umumnya penuh harapan, idealisme, dan semangat kebersamaan.    Ciri khas tahap ini dalam CU:

  • Fokus pada visi dan mimpi bersama
  • Anggota dan pengurus masih sungkan berbeda pendapat
  • Banyak keputusan diambil berdasarkan kepercayaan personal
  • Struktur dan sistem belum berjalan optimal

Pada tahap ini, CU sangat membutuhkan kepemimpinan yang memberi arah. Aturan dasar, nilai inti, dan prinsip CU harus diperkenalkan secara jelas. Pendidikan anggota dan kaderisasi menjadi kunci agar CU tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga kuat secara pemahaman.Bahaya tahap forming adalah romantisme berlebihan: merasa semua akan baik-baik saja hanya karena niatnya baik.

4. TAHAP  STORMING : Konflik yang Tak Terhindarkan

Banyak Credit Union berhenti bertumbuh karena gagal melewati tahap storming. Inilah fase paling tidak nyaman, tetapi justru paling menentukan.  Adapun  Pada tahap ini:

  • Perbedaan pendapat mulai muncul
  • Kepentingan pribadi atau kelompok terlihat jelas
  • Kritik terhadap pengurus atau manajemen meningkat
  • Emosi, kekecewaan, dan ketidakpercayaan bisa menguat

Dalam CU, storming sering muncul dalam bentuk:

  • Konflik antara pengurus dan manajemen
  • Ketegangan antara idealisme sosial dan tuntutan profesionalisme
  • Persoalan transparansi dan akuntabilitas

Godaan terbesar pada tahap ini adalah menyapu konflik ke bawah karpet atau mencari kambing hitam. Padahal, konflik yang diolah secara sehat justru memperjelas nilai, memperbaiki sistem, dan memperdalam kedewasaan organisasi.   Begitulah,   CU yang dewasa tidak anti-konflik, tetapi anti ketidakjujuran.

5. TAHAP  NORMING : Belajar Menata Diri

Jika tahap storming dilewati dengan dialog, refleksi, dan kerendahan hati, Credit Union akan memasuki tahap norming.   Ciri tahap norming dalam CU:

  • Aturan dan SOP mulai dihargai bersama
  • Peran pengurus, pengawas, dan manajemen makin jelas
  • Kepercayaan dibangun bukan hanya secara personal, tetapi sistemik
  • Kritik disampaikan dengan cara yang lebih dewasa

Pada tahap ini, budaya organisasi mulai terbentuk. Nilai-nilai CU tidak hanya tertulis di dinding, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari.  Jadi... Norming bukan berarti semua sepakat, melainkan semua bersepakat untuk berbeda secara bertanggung jawab.

6. TAHAP  PERFORMING : Credit Union yang Matang

Tahap performing adalah kondisi di mana Credit Union mampu menjalankan misinya secara efektif dan berkelanjutan.  Sedangkan ...Ciri CU pada tahap ini:

  • Kinerja keuangan sehat dan transparan
  • Pelayanan anggota berkualitas
  • Konflik tetap ada, tetapi dikelola dengan matang
  • Regenerasi kepemimpinan berjalan
  • Inovasi tumbuh tanpa meninggalkan jati diri

CU yang performing tidak sibuk membuktikan diri, tetapi fokus melayani anggota dan komunitas. Keberhasilan tidak membuatnya jumawa, dan kegagalan tidak membuatnya runtuh.   Yang menarik, CU yang matang sering kali tampak tenang. Tidak dramatis, tidak reaktif, tetapi kokoh.

7. Kepemimpinan sebagai Kunci Perjalanan Tahap

Perjalanan dari forming ke performing sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan. Bukan kepemimpinan otoriter, melainkan kepemimpinan yang:

  • Mau mendengar
  • Berani mengambil keputusan sulit
  • Setia pada nilai
  • Mampu belajar dari kritik

Pemimpin CU yang dewasa tidak takut kehilangan jabatan, karena yang ia jaga adalah keberlanjutan lembaga, bukan kenyamanan pribadi.

8. Refleksi Praktis bagi Credit Union di Indonesia

Banyak Credit Union di Indonesia sebenarnya sedang berada di tahap storming atau norming, tetapi mengira dirinya sudah performing. Akibatnya, gejala konflik dianggap gangguan, bukan sinyal pertumbuhan. Membaca CU dengan kacamata Tuckman menolong kita untuk:

  • Lebih sabar terhadap proses
  • Lebih jujur membaca realitas
  • Lebih rendah hati dalam kepemimpinan

Pertanyaannya bukan: CU kita sedang baik atau buruk?.  Melainkan: CU kita sedang berada di tahap apa, dan apa yang perlu kita pelajari di tahap ini?

Penutup

Menjadi Credit Union yang matang bukan soal cepat atau lambat, tetapi soal setia pada proses. Teori Tuckman mengingatkan kita bahwa konflik bukan akhir dari segalanya, dan harmoni sejati tidak lahir dari penyangkalan, melainkan dari pengolahan perbedaan.  Credit Union yang matang adalah CU yang berani bertumbuh—dengan jujur, rendah hati, dan berorientasi pada anggota.

Pontianak; 31 Januari 2026.

By.  Lukas Eko Sukoco, Anggota Komite KP.4 - CU Angudi Laras  Purworejo.

 

Daftar Pustaka

Tuckman, B. W. (1965). Developmental sequence in small groups. Psychological Bulletin, 63(6), 384–399.

Tuckman, B. W., & Jensen, M. A. C. (1977). Stages of small-group development revisited. Group & Organization Studies, 2(4), 419–427.

International Co-operative Alliance. (2015). Guidance Notes to the Co-operative Principles.

WOCCU. (2019). Credit Union Operating Principles.

Sukoco, L. E. (2024). Bisnis Berdaya, Anggota Sejahtera. (Manuskrip).

 

Author Image

Ketua Pengurus CU Angudi Laras

Artikel Terkait: