Jam Kerja PUSKOPCUINA Senin s.d. Jumat pukul 07.30 s.d. 15.30 WIB, Efektif Per 4 Maret 2024

Diklat

Pelatihan ToT Metode ABCD: Menggali Kekuatan Komunitas

Share:
Pelatihan ToT Metode ABCD: Menggali Kekuatan Komunitas

Yogyakarta, 8–11 Juli 2025 — Ada yang seru dan penuh semangat berlangsung selama empat hari di The Garden Cabin Hotel, Yogyakarta. Sebanyak 39 orang peserta dari 13 Credit Union (CU) berkumpul untuk mengikuti Pelatihan Training of Trainers (ToT) Metode ABCD — sebuah pelatihan yang bukan hanya mengasah kemampuan fasilitasi, tapi juga mengubah cara pandang tentang bagaimana melihat potensi dan kekuatan dari komunitas yang sering luput dari perhatian. 

Pelatihan ini difasilitasi oleh RP. Sumarwan, SJ, Ph.D. Romo Marwan panggilan akrab RP. Sumarwan, SJ merupakan Ketua Pengurus CU Kridha Rahardja, Anggota Komite Keuangan dan Tata Kelola PUSKOPCUINA dan dosen di Universitas Sanata Darma, Yogyakarta. 

Romo Marwan dibantu oleh bapak Cornelius Widodo Utomo dengan panggilan akrabnya Pak Wid, mentor CU Kridha Rahardja dan pemilik Widodo Farm yang berlokasi di Salatiga, Jawa Tengah. Pak Wid sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun dalam dunia pertanian dan aktif dalam kegiatan edukasi pertanian, mantan dosen matematika di salah satu universitas yang ada di Salatiga dengan pendidikan terakhir magister dalam bidang matematika. Widodo Farm sendiri tampaknya fokus pada praktik pertanian yang inovatif dan berkelanjutan, dengan pendekatan edukasi dan produksi.

Hari Pertama & Kedua: Membuka Mata Lewat Paradigma "Appreciative Inquiry" dan Peta Aset

Salah satu keterampilan baru yang didapat peserta, tentu saja saat peserta praktik membuat Jadam Microbial Solution (JMS) — atau larutan mikroorganisme khas JADAM. JMS merupakan pupuk hayati cair yang dibuat melalui fermentasi anaerobik dari bahan-bahan organik seperti tanah humus bambu, kentang, garam tanpa yodium, dan air hujan. Dalam larutan ini terkandung jutaan mikroorganisme yang berfungsi sebagai pembenah tanah dengan cara menguraikan bahan organik mati menjadi unsur hara yang bisa diserap tanaman, sekaligus memperbaiki struktur tanah agar menjadi lebih remah sehingga akar tanaman dapat berkembang dengan optimal. Sambil meracik ramuan ala ilmuwan organik, peserta saling berbagi cerita dan bercanda gurau. Dibenak peserta sudah tidak sabar lagi menunggu hasilnya dan akan praktek di CU masing-masing. Kegiatan pembuatan JMS ini dipandu oleh Mbak Nurma, Manajer CU Kridha Rahardja dan Pak Widodo, keduanya penuh semangat membagikan ilmunya kepada peserta.

A group of people standing around

AI-generated content may be incorrect.

Foto: Mbak Nurma melatihkan pembuatan JMS

Romo Marwan mengajak peserta menyelami paradigma “Appreciative Inquiry”, yaitu cara pandang yang fokus pada apa yang berjalan baik, bukan apa yang salah (metode problem solving). Bukan basa-basi motivasi, tapi benar-benar praktik melihat gelas setengah penuh, bukan setengah kosong.

Lalu, peserta mulai dikenalkan dengan inti dari metode ABCD (Asset-Based Community Development) — sebuah pendekatan pembangunan komunitas yang bertumpu pada aset, atau kekuatan yang dimiliki, bukan pada masalah atau kelemahan. Pendekatan dalam mengidentidikasi situasi komunitas menggunakan Apreciate Inquary (AI)AI adalah pendekatan perubahan dan pengembangan organisasi yang berfokus pada penggalian dan penguatan keunggulan, potensi, dan pengalaman positif yang sudah ada dalam individu atau organisasi atau komunitas. AI bertujuan untuk menciptakan visi dan solusi masa depan yang lebih baik dengan cara menggali “apa yang sudah berjalan dengan baik” dan mengembangkannya secara kreatif melalui siklus 4D: Discovery (penemuan), Dream (mimpi), Design (perancangan), dan Destiny (implementasi).

Untuk praktek pembelajaran ini, Romo Marwan meminta kepada 5 kelompok menetapkan 1 kelompok binaan dari dampingan salah satu CU Primer asal peserta yang ada dikelompok tersebut. Misalnya kelompok 2 mengambil contoh Kelompok Tani Sumber Rejeki yang merupakan Kelompok Usaha Binaan (KUBn) dari CU Betang Asi, Kantor Cabang Pelampang Tarung. Praktek metode ini oleh peserta dimulai dengan mengidentifikasi atau memetakan masalah atau kekurangan dan kelemahan individu sebagai langkah awal menyadari bahwa setiap orang memang tidak sempurna, namun tetap punya potensi yang luar biasa.

Dari situ, mereka mulai memetakan aset individu, institusional, paguyuban, dan sumber daya alam di sekitar mereka. Oh ya, selanjutnya pembahasan tentang “ember bocor” — analogi menarik tentang bagaimana kadang upaya pembangunan bisa sia-sia kalau tidak sadar bahwa “ember” komunitas sedang bocor: entah karena kebocoran ekonomi, sosial, atau semangat kolektif yang mulai pudar.

Langkah berikutnya, merumuskan visi dan misi KUBn atau UMKM, membuat struktur organisasi, mengidentifikasi aset untuk mewujudkan visi/mengidentifikasi kemitraan dan terakhir menyusun program kerja dari KUBn atau UMKM. Program kerja memuat tujuan, program kerja, penangungjawab dan waktu pelaksanaan. Bagian terakhir dari metode ABCD ini melakukan pemantauan dan evaluasi.

A group of people in a room

AI-generated content may be incorrect.

Foto: Pemetaan Aset Kombas Sinar Kambuna, kelompok tenun dampingan CU Kasih Sejahtera 

Hari Ketiga: Belajar dari Lapangan

Hari ketiga, peserta diajak turun langsung ke lapangan. Bukan jalan-jalan biasa, tapi kunjungan penuh makna ke 5 kelompok binaan CU Kridha Rahardja Kantor Cabang Wedi. Ada 3 KUBn dan 2 UMKM yang dikunjungi. Di sana, peserta belajar dari praktik nyata bagaimana ABCD sudah dijalankan di tengah komunitas. Mulai dari usaha pertanian organik hingga kegiatan pemberdayaan perempuan, semuanya membuka wawasan peserta tentang kekuatan yang selama ini tersembunyi di balik keterbatasan.

 

A group of people looking at cows

AI-generated content may be incorrect.

Foto: studi lapangan di UMKM dengan usaha ternak sapi

A group of people standing in a room

AI-generated content may be incorrect.

Foto: pupuk JADAM - produk KUBn dampingan CU Kridha Rahardja

Dalam kunjungan ini, peserta mengali sebanyak-banyak informasi terkait pendampingan yang dilakukan oleh CU Kridha Rahardja dan dampaknya bagi KUBn atau UMKM. Romo Marwan, selaku fasilitator telah memberikan panduan pertanyaan kepada peserta. Tujuannya untuk mendalami bukan saja kelebihan tetapi juga kelemahan pendampingan yang dilakukan oleh CU Kridha Rahardja.

Setelah selesai kunjungan ke kelompok binaan CUKR, peserta dijamu panitia makan siang di Paroki Dalam. Dilanjutkan dengan sesi ramah tamah dan sharing pengalaman. Setelah itu, peserta menaburkan bibit JMS di area paroki St. Perawan Maria, Bunda Kristus Wedi. Setelah kegiatan ini, peserta yang berminat diberikan kesempatan oleh panitia untuk wisata secara mandiri mengungjungi Candi Prambanan dan lainnya dapat kembali ke hotel, tempat pelatihan.

Hari Keempat: Refleksi & Rencana Aksi

Setelah perjalanan lapangan, hari terakhir diisi dengan evaluasi dan refleksi mendalam. Romo Marwan memandu peserta untuk mengali ilmu yang didapatkan selama kunjungan. Selanjutnya, Romo Marwan dan Bapak Widodo memandu peserta untuk membuat program kerja untuk KUBn atau UMKM bagi kelompok binaan yang menjadi contoh bagi kelompok dalam menyusun langkah-langkah yang diperlukan dalam pemberdayaan dengan pendekatan ABCD. Romo Marwan dan Pak Widodo mengevaluasi program kerja yang disusun oleh masing-masing kelompok. Kelompok yang membuat program kerja yang paling mendekati perwujudan visi akan diberikan hadiah. Akhir sesi, hadiah didapatkan oleh kelompok 3 dan 5.

Banyak peserta yang merasa pelatihan ini bukan cuma memberi ilmu, tapi juga membangkitkan semangat baru. Mereka membentuk kelompok kerja, lalu menyusun program kerja kelompok binaan berbasis pendekatan ABCD yang akan mereka terapkan di CU masing-masing.

Suasana akrab, penuh inspirasi, dan saling dukung terasa sampai detik terakhir pelatihan. Bahkan sebelum acara resmi ditutup, peserta sudah saling tukar nomor, janji kolaborasi, dan pastinya… selfie berjamaah!

Pelatihan ini bukan sekadar rutinitas. Ini momen bangkitnya semangat baru dari CU untuk membangun bersama, bukan karena kekurangan, tapi karena kekuatan. Karena ternyata, di balik setiap individu, ada aset yang bisa diberdayakan. Dan di balik setiap komunitas, ada potensi luar biasa yang hanya perlu dilihat dengan cara yang berbeda.

Salam ABCD: Kita Tidak Kurang Apa-Apa, Kita Tinggal Ngapa-ngapain Bareng-Bareng!

Artikel Terkait: