Pengumuman:
Jam Kerja PUSKOPCUINA Senin s.d. Jumat pukul 07.30 s.d. 15.30 WIB, Efektif Per 4 Maret 2024

artikel

Dana Darurat

Dana Darurat

Emang Boleh Anak Sekecil itu Punya Dana Darurat ?

Oleh: Galuh Asti Wulandari

Dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian. Satu hal yang pasti adalah perubahan. Maka hanya mereka yang selalu siap dengan perubahan, siap dengan beragam situasi yang akan mampu bertahan.

Kemampuan untuk bertahan dengan menggunakan segala kecerdasan yang dimiliki perlu diperkenalkan dan diajarkan sejak dini. Anak  perlu dididik untuk mandiri seiring dengan usia dan penalaran mereka. Jika pilihan Anda sebagai orang tua menyayangi anak adalah dengan cara memanjakannya secara berlebihan, Anda justru sedang mempersiapkan kejatuhan mereka.


Masa sulit, krisis, pasti terjadi dalam hidup.. Tetapi apabila kita waspada, siap dengan segala kemungkinan termasuk krisis finansial bahkan pandemi, maka kita tidak perlu kuatir akan jatuh dan terperosok dalam. Tugas kita sebagai orang tua adalah membangun good money habit bagi anak-anak.

Kecerdasan finansial sangat perlu diajarkan sejak kanak-kanak, good money habit musti diperkenalkan sedari dini. Anak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan, anak suka menabung, anak dapat menghitung kondisi uang sakunya saat ingin membeli barang impian, anak memiliki kepekaan sosial dengan berderma, merupakan ketrampilan hidup yang sangat berguna baginya di masa depan.

Bahkan saat anak ikut terpapar situasi sulit karena hantaman pandemi, hal itu dapat menjadi pintu masuk bagi orang tua untuk menunjukkan pentingnya dana darurat. Pada pengalaman saya; anak diajari untuk mengikat sejumlah uang dengan karet gelang di celengan kesayangannya, yang berarti uang tersebut sungguh tidak boleh diambil untuk jajan atau beli mainan. Uang itu dianggap  sebagai penjaga celengan, tidak boleh keluar dari celengan dan sekaligus sebagai penarik uang berikutnya untuk masuk celengan.

Istilah penarik atau penglaris itu seperti  laiknya barang laku dipagi hari, si penjual biasanya pegang uangnya, ditepuk-tepukkan ke barang dagangan lainnya sambil berujar laris..laris..laris..

Istilah ini mujarab lho bagi anak saya ! 

Waktu celengan dia kosong, hanya ada ikatan uang itu (baca: dana darurat) dan dia ingin beli mainan, dia akan bilang kalau dia nggak punya uang. Tapi dia tidak sedih karena dia punya harapan, dia percaya celengannya akan terisi lagi karena dia punya ikatan uang penarik dhuit.

Dan ajaibnya, his wish come true

This is what so called the cycle of allowance.  
Sebenarnya sih.. karena Natal dan Tahun Baru yaaa.. jadi pasti ada banyak uang saku dari pakdhe,budhe, Oom dan Tantenya. 

Yang membuat saya terharu, saat dia berlimpah uang saku itu dia sudah punya daftar barang kebutuhan sepak bola yang hendak dia beli waktu dia ulang tahun beberapa bulan ke depan.

Ya, dia bisa menunda keinginannya padahal dia punya uang !

Ora sak deg sak nyek !

Dia juga masih ingat  untuk menaruh sejumlah uang dalam amplop yang dia tulisi "Uang untuk Beramal...untuk Beramal"
Daann.. uang dalam ikatan karet gelang itupun tidak berkurang. Tidak perlu tergesa juga untuk menambahnya karena yang terpenting bagi saya adalah dia dapat menyikapi uangnya dengan sangat  baik versi anak seumuran dia.

Dan versi seriusnya dalam pengelolaan keuangan adalah orang tua mengakses produk dan layanan CUCT bagi anaknya sejak bayi melalui Siwaris, Simpanan Pendidikan, Sitravella untuk study tour, dan pastinya Sigap atau tabungan kesiapsiagaan, atau dana darurat. 

Jadi...
Emang Boleh Anak Sekecil itu Punya Dana Darurat ?
Jelas Boleh Dong... kan anak CUCT !!

tulisan ini ttg seorang anak kelas IV SD anggota TP Kotabaru sejak umur 1th dan di 2024 ini akan berulangtahun ke-11.

 

Share this Post:

Artikel Terkait: